Cremeborne

PGRI dan Penguatan Identitas Kolektif Guru

Rate this post

Dalam arsitektur pendidikan tahun 2026, di mana disrupsi teknologi dan perubahan status kepegawaian sering kali membuat guru merasa terisolasi, PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) hadir sebagai kekuatan utama yang membangun dan menguatkan identitas kolektif. PGRI memastikan bahwa setiap pendidik tidak merasa sebagai individu yang berjuang sendirian, melainkan bagian dari satu korps yang besar, mulia, dan berdaulat.

Berikut adalah strategi PGRI dalam memperkokoh identitas kolektif guru Indonesia:


1. Menyatukan Identitas dalam Semangat Unitarisme

Identitas kolektif sering kali retak akibat perbedaan status administratif (ASN, PPPK, dan Honorer). PGRI hadir untuk menjahit kembali keretakan tersebut.

2. Identitas sebagai “Master of Learning” di Era Digital (SLCC)

Identitas kolektif diperkuat ketika sebuah kelompok memiliki kebanggaan atas kompetensi yang unggul.


3. Kedaulatan Hukum sebagai Identitas Profesi yang Berani (LKBH)

Identitas kolektif yang kuat lahir dari rasa aman. Kelompok yang merasa terlindungi akan memiliki solidaritas yang lebih tinggi.

  • Solidaritas Advokasi: Melalui LKBH, PGRI mengirimkan pesan bahwa jika satu guru disakiti atau dikriminalisasi karena menjalankan tugasnya, maka jutaan guru lainnya akan berdiri membela. Identitas “Guru yang Terlindungi” ini memberikan kepercayaan diri kolektif bagi para pendidik.

  • Perisai Profesi: Keberadaan LKBH menjadikan PGRI sebagai simbol kedaulatan, di mana guru merasa memiliki martabat hukum yang diakui oleh negara dan masyarakat.

4. Kompas Etika: Satu Kode Etik, Satu Marwah (DKGI)

Identitas kolektif membutuhkan standar moral yang sama agar publik dapat mengenali karakter seorang guru di mana pun mereka berada.

  • Penjaga Gawang Karakter: Melalui DKGI (Dewan Kehormatan Guru Indonesia), PGRI menyatukan perilaku profesional guru dalam satu Kode Etik. Identitas guru diperkuat sebagai figur teladan yang memiliki integritas tinggi dan kejujuran akademik.

  • Marwah Korps: Dengan penegakan etika yang konsisten, setiap guru merasa bangga memakai seragam PGRI karena seragam tersebut melambangkan integritas dan kepercayaan masyarakat.


Tabel: Transformasi Identitas Guru via PGRI

Dimensi Identitas Sebelum Penguatan PGRI Setelah Penguatan PGRI (2026)
Status Sosial Terfragmentasi (ASN vs Honorer). Solid dalam identitas Unitarisme.
Citra Diri Merasa tertinggal oleh teknologi. Bangga sebagai pemimpin digital (SLCC).
Keberanian Pasif karena takut risiko hukum. Berdaulat dan terlindungi (LKBH).
Legitimasi Dianggap sebagai pekerja biasa. Diakui sebagai pemimpin moral (DKGI).

Kesimpulan:

Penguatan identitas kolektif oleh PGRI bertujuan agar setiap guru memiliki kebanggaan korps (esprit de corps) yang tinggi. Dengan identitas yang kuat, guru Indonesia tidak akan mudah dipecah belah oleh kepentingan politik maupun disrupsi zaman, melainkan tetap teguh berdiri sebagai pilar utama peradaban bangsa.

slot gacor
toto togel
situs sbobet
situs hk pools

slot gacor
toto togel
situs sbobet
situs hk pools
slot gacor

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top

Locations of Creme Borne