Berikut adalah strategi PGRI dalam memperkokoh identitas kolektif guru Indonesia:
1. Menyatukan Identitas dalam Semangat Unitarisme
Identitas kolektif sering kali retak akibat perbedaan status administratif (ASN, PPPK, dan Honorer). PGRI hadir untuk menjahit kembali keretakan tersebut.
2. Identitas sebagai “Master of Learning” di Era Digital (SLCC)
Identitas kolektif diperkuat ketika sebuah kelompok memiliki kebanggaan atas kompetensi yang unggul.
-
Literasi Masa Depan yang Seragam: Melalui Smart Learning and Character Center (SLCC), PGRI membangun identitas guru sebagai kaum profesional yang melek teknologi dan AI. Guru-guru Indonesia memiliki kebanggaan kolektif karena mereka adalah komunitas pembelajar yang adaptif.
3. Kedaulatan Hukum sebagai Identitas Profesi yang Berani (LKBH)
Identitas kolektif yang kuat lahir dari rasa aman. Kelompok yang merasa terlindungi akan memiliki solidaritas yang lebih tinggi.
-
Solidaritas Advokasi: Melalui LKBH, PGRI mengirimkan pesan bahwa jika satu guru disakiti atau dikriminalisasi karena menjalankan tugasnya, maka jutaan guru lainnya akan berdiri membela. Identitas “Guru yang Terlindungi” ini memberikan kepercayaan diri kolektif bagi para pendidik.
-
Perisai Profesi: Keberadaan LKBH menjadikan PGRI sebagai simbol kedaulatan, di mana guru merasa memiliki martabat hukum yang diakui oleh negara dan masyarakat.
4. Kompas Etika: Satu Kode Etik, Satu Marwah (DKGI)
Identitas kolektif membutuhkan standar moral yang sama agar publik dapat mengenali karakter seorang guru di mana pun mereka berada.
-
Penjaga Gawang Karakter: Melalui DKGI (Dewan Kehormatan Guru Indonesia), PGRI menyatukan perilaku profesional guru dalam satu Kode Etik. Identitas guru diperkuat sebagai figur teladan yang memiliki integritas tinggi dan kejujuran akademik.
-
Marwah Korps: Dengan penegakan etika yang konsisten, setiap guru merasa bangga memakai seragam PGRI karena seragam tersebut melambangkan integritas dan kepercayaan masyarakat.
Tabel: Transformasi Identitas Guru via PGRI
| Dimensi Identitas | Sebelum Penguatan PGRI | Setelah Penguatan PGRI (2026) |
| Status Sosial | Terfragmentasi (ASN vs Honorer). | Solid dalam identitas Unitarisme. |
| Citra Diri | Merasa tertinggal oleh teknologi. | Bangga sebagai pemimpin digital (SLCC). |
| Keberanian | Pasif karena takut risiko hukum. | Berdaulat dan terlindungi (LKBH). |
| Legitimasi | Dianggap sebagai pekerja biasa. | Diakui sebagai pemimpin moral (DKGI). |
Kesimpulan:
Penguatan identitas kolektif oleh PGRI bertujuan agar setiap guru memiliki kebanggaan korps (esprit de corps) yang tinggi. Dengan identitas yang kuat, guru Indonesia tidak akan mudah dipecah belah oleh kepentingan politik maupun disrupsi zaman, melainkan tetap teguh berdiri sebagai pilar utama peradaban bangsa.
monperatoto
situs slot gacor
link slot gacor
situs togel online
situs togel terpercaya
toto togel
monperatoto
slot gacor
situs togel resmi
slot gacor
monperatoto
slot gacor
toto togel
situs sbobet
situs hk pools
slot gacor
toto togel
situs sbobet
situs hk pools
slot gacor